Rabu, 29 November 2017

Teks Lomba Bercerita Tema Jasa Pahlawan

Rabu, November 29, 2017 0 Comments
SANG SRIKANDI PEJUANG EMANSIPASI WANITA

Sang Srikandi pejuang emansipasi wanita itu adalah Raden Ajeng Kartini. Kartini dilahirkan dari kalangan bangsawan. Beliau merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat seorang Bupati Jepara. Ibu kartini adalah M.A. Ngasirah seorang guru agama. Ibu Kartini bukanlah istri utama, karena beliau bukan berasal dari kalangan bangsawan. Kisah kartini diawali ketika beliau berumur 12 tahun. Bapak Kartini menemuinya, “Trinil, ndhuk, kini sudah tiba saatnya kamu menjalani masa pingitan.” Terang RM Ario kepada Kartini. Dengan raut muka sedih, Trinil (nama panggilan Kartini kecil) menjawab halus, “Bapak, Trinil ingin sekolah. Trinil ingin menjadi gadis yang cerdas. Gadis dengan cita-cita yang tinggi. Trinil ingin sekolah pak.”
“Trinil, bapak tidak bisa memenuhi keinginanmu. Ini adalah tradisi. Perempuan tidak perlu sekolah yang tinggi. Sudah saatnya kamu dipingit. Belajar segala hal urusan wanita, kemudian menikah dengan seseorang yang tepat.”
“Pak, tidak bisakah tradisi itu tidak dilaksanakan?” bujuk Kartini sembari menangis
“Trinil, bapakmu ini adalah Bupati. Bapak adalah pemimpin Jepara. Tidak mungkin bapak menghancurkan tradisi sendiri.” 




Keputusan RM Ario Sosro sang ayah untuk memingit Kartini sudah bulat. Kartini pun sudah tidak bisa merayu lagi. Dengan hati yang berat, dia mencoba menerima keputusan sang Ayah.Di usianya 12 tersebut, Kartini harus menjalani tradisi pingitan. Kartini harus tinggal di rumah. Kartini harus berhenti sekolah dan bersembunyi dibalik tembok tinggi. Meninggalakan segala kecerian bersama temannya Rosa Abendanon, Annie Glaser, Stela, Van Kol, dan lain-lain. 
Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa tersiksanya dipingit selama berbulan-bulan. Kartini ingin berkeliling Jepara tanpa pengawalan. Namun, ia sedang dipingit. Hari-hari ia lalui dengan belajar hal-hal yang dilakukan oleh seorang wanita. Ia juga masih belajar buku-buku yang dipinjamkan oleh sahabat dan kakaknya. Kartini terus berfikir. Mengapa wanita harus tertinggal? Mengapa lelaki yang boleh bersekolah, menyampaikan pendapat, bekerja? Lalu, buat apa wanita diciptakan jika selalu ditindas dan dibedakan dari kaum lelaki? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikiran Kartini. 
Kartini ingin merubah semuanya. Dia terus mencari cara agar keadaan bisa lebih baik. Ia ingin agar kaum wanita lebih maju. Hari-hari ia lewati dengan lebih bersemangat. Ia selalu berkirim surat dengan sahabat-sahabatnya. Ada banyak hal yang ia ceritakan kepada sahabatnya, termasuk beasiswa kedokteran di Belanda. Namun, mimpi tersebut pupus ketika Ngasirah membawa berita tak mengenakkan.
“Trinil, sudah saatnya kamu berhenti dipingit.”
“Berhenti dipingit Bu?” Kartini heran
“Tentu. Pingitan adalah tradisi dimana kamu dilindungi, dan sudah saatnya kamu berhenti dipingit, karena sudah ada lelaki yang akan menikahimu.”
Adipati Ario Singgih adalah sosok lelaki yang akan menikahi kartini.  Beliau adalah Bupati Rembang. Mereka menikah pada tanggal 12 November 1903. Kartini bertanya kepada Adipati Ario Singgih.
“Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada bapak.” 
“Tentu. Apa itu Kartini?”
“Saya memiliki mimpi membangun sekolah khusus untuk kaum perempuan. Saya ingin mereka samarata dengan lelaki. Saya ingin agar wanita tidak tertindas dan lemah. Bagaimana menurutmu?”
“Sungguh mulia itu Kartini. Saya sempat berfikir seperti itu. Namun, karena banyak pertimbangan saya belum melaksanakannya. Apabila kamu ingin melakukannya, lakukanlah! Aku akan mendukungmu.”

Sesaat setelah menikah, ia segera membuka sebuah sekolah untuk perempuan. Kartini sendiri terjun sebagai guru. Mengajarkan anak-anak perempuan segala hal yang ia ketahui. Kegiatan tersebut berlangsung hingga usia kandungan Kartini 9 bulan. Di usia kandungan 9 bulan, Kartini hanya menghabiskan waktu membaca buku dan membalas surat dari teman-temannya di Belanda.
17 September 19 04, Kartini menggerakkan tangan lemahnya di atas kertas. Tiba-tiba tubuhnya melemas. Mata yang penuh semangat itu perlahan tertutup. Tubuhnya yang tak lelah berjuang untuk kaum wanita itu sekarang terdiam. Iya, tubuh kaku. Hari itu, Kartini menutup hidupnya.
Namun, semangat dan perjuangannya tak pernah berakhir. Mimpi indah yang ia rangkai perlahan terwujud. Jasa besarnya memperjuangkan untuk emansipasi wanita. Kini wanita mampu menjadi pemimpin. Mampu bersaing dengan kaum pria dalam segala bidang. Siapa pun itu, kaum wanita kaya, miskin, tinggi, rendah, lemah, kuat, cantik, jelek mampu mengepakkan sayapnya berkat semangat yang ia kobarkan. Semangat dari 

Sang Srikandi Pejuang Wanita
Oleh: Mu’linnatus Sa’dah, S. Pd

Hembusan nafas pasrahmu dalam kekangan tradisi
Peluh dan tangismu 
Terangkai rapi dalam sejarah kami
Dibalik kecantikanmu
Kau anugrahkan kaummu terangnya kehidupan
Terbangun dari gelapnya tradisi
Srikandiku
Tabir perbedaan itu kau robek
Menuang impian nyata
Demi emansipasi wanita




Teks cerita lomba bercerita di atas berasal dari naskah dari dari nauranayyah.blogspot.co.id. Dari naskah drama tersebut saya tata dan jadilah satu rangkaian cerita. Mangga yang ingin mengunduhnya.

Senin, 27 November 2017

Media Pembelajaran Berbentuk Komik: Patrapan Sanepa

Senin, November 27, 2017 0 Comments
Media pembelajaran sekarang ini harus ada dalam kegiatan belajar mengajar. Media pembelajaran bisa berbentuk apa saja. Mulai dari yang sederhana sampai yang rumit. Metode ceramah tanpa diselipi dengan media pembelajaran kuranglah mengena di hati para peserta didik. Para generasi muda zaman "NOW" amatlah berbeda dengan generasi zaman "SEMONOW".

Generasi muda sekarang mununtut guru untuk kreatif dalam menyampaikan materi pelajaran. Jika guru tak mampu mengikuti perkembangan zaman, maka mereka akan tertinggal dari muridnya. Karena mereka bisa belajar secara mandiri di rumah melalui gawai.



Karena tuntutan itulah, saya sebagai guru tak henti-hentinya selalu memikirkan ide segar membuat kegiatan belajar mengajar selalu diminati oleh siswa. Kali ini adalah membuat komik. Dulu saya pun pernah membuat komik unggah-ungguh basa.

Baca ini http://www.sinaujawa.com/2015/05/pacelathon.html

Kali ini melalui visualisasi gambar komik, saya mencoba membantu siswa memahami kawruh basa "Sanepa". Materi kawruh basa ini sudah pernah saya tulis dalam blog sinaujawa.com ini.

Baca ini http://www.sinaujawa.com/2014/09/sanepa.html

Komik penerapan sanepa ini saya buat melalui situs gratis pembuat komik www.toondoo.com. Situs pembuat komik gratis ini amatlah membantu saya yang tak bisa menggambar sendiri. Ini bukan kali pertama saya membuat media pembelajaran berbentuk komik. Penerapan sanepa dalam dialog ini saya visualisasikan sedemikian rupa agar para siswa lebih mudah memahami tentang sanepa.

Berikut adalah komik "Patrapan Sanepa Sajroning Pacelathon" yang saya buat melalui toondoo. Untuk membuat contoh komik lain, silahkan langsung saja menuju situs toondoo. Semoga contoh komik patrapan sanepa ini bisa membantu para guru dalam menyampaikan materi ke siswa.


Kamis, 23 November 2017

Film Pendek Bahasa Jawa Karya Pertamaku Berjudul "Ibu"

Kamis, November 23, 2017 2 Comments
Assalamu'alaikum semua pembaca setia blog sinaujawa.com. Seorang guru memang dituntut untuk selalu belajar. Apa yang akan terjadi apabila guru berhenti untuk belajar dan menggali ilmu? Tak terbayangkan akibatnya jika seorang guru berhenti belajar. Hal itulah yang selalu kutanamkan dalam diri pribadiku. Menjadi seorang guru yang selalu haus akan ilmu.

Ilmu itu bisa diperoleh dari manapun dan siapapun. Ketika kita berjalan menuju kesuatu tempat, dalam perjalanannya banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil. Misalnya adalah kejadian kecelakaan yang kita temui, dari kejadian tersebut kita mengambil banyak sekali pelajaran yaitu agar selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas, perlengkapan berkendara harus lengkap agar kecelakaan tak terjadi pada diri kita.



Kali ini ilmu baru yang aku pelajari adalah editing. Yup, saya belajar membuat film pendek. Film dengan durasi kurang lebih 10 menit. Film pertama ini dibintangi oleh murid-muridku. Banyak sekali kekurangan dalam pembuatan film perdana ini. Namun, belajar itu tak pernah mengenal waktu. Jika film ini masih banyak kekurangan disana-sini, niscaya dalam pembuatan film selanjutnya hasilnya akan jauh lebih baik. Berikut adalah link film pendek pertama saya. FILM PENDEK BAHASA JAWA "IBU"






Jumat, 13 Oktober 2017

Cerkak "Jenengku Parmin, Lha Sampeyan?"

Jumat, Oktober 13, 2017 0 Comments
Ora kaya padatane, dina iki Parmin katon klemis. Dheweke arep menyang Solo dolan neng omahe Parmi. Parmi kuwi mbak yu kang paling tua. Dheweke lunga menyang Solo numpak travel. Udakara jam wolu esuk, dheweke wis nyangking tas arep mangkat nyang panggonan travel. 
"Maaak, kula kesah rumiyen." Sinambi salaman karo Mak'e
"Walaaaah, iya le, ati-ati neng dalan. Aja lali salamku kanggo mbak yu mu Parmi." Pandongane Mak'e nyang Parmin
"Nggih Mak. Pun, kula pamit. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."


Tekan panggonan travel, Parmin banjur marani pegawai travel. Dheweke arep takon, armada sing ngendi kang bakal nggawa awake menyang Solo. Jare pegawene, armada kang werna ireng sisih kulon. Travel ora langsung mangkat. Parmin kudu sabar ngenteni kurang luwih setengah jam. Dheweke ngenteni ana ing bangku sisih armada kang arep menyang Solo.
Ana ing bangku, ngenteni pawongan ayu, resik, lan putih.

"Oalaaah, bejo tenan uripmu Min." Batine Parmin nalika lungguh ing bangku kuwi.
"Mbak, sampeyan ajeng tindak Solo?" Parmin mbukak omongan. Miturut bocah saiki, Parmin iki lagi PDKT, lagi modus pumpung ana kesempatan emas. Wkkkkk...Wkkkk
"Eeee.... Hmmmm.... Nggih." semaure pawongan ayu mau rada mangu-mangu
"Tepangaken. Kula Parmin." Parmin ngenalake dheweke karo ngelungake tangan. Pawongan kuwi mesem. Banjur mbales ngelungake tangan sinambi mangsuli, "Kula Dita. Ananging, menawi wonten toko, nama kula niki Leni. Dita wau nama kula rikala wonten griya. Sampeyan boten usah bingung nggih mas?"
"Boten Mbak Dita, Eeeh.... Mbak Leni."
"Nanging mas, kula niki wonten peken nalika kulakan diceluk Rara."
"Waalaaaah."
"Dening rencang-rencang, kerep nyeluk kula Fia."
"Ealah mbak, janjane asmane sampeyan ingkang pundi ta Mbak?"
"Sedaya nggih nama kula mas. Wong, nama jangkep kula niku DITALENI RAFIA."

Parmin mlongo ora bisa ngomong apa-apa meneh.


Cerita terinspirasi dari Radio Harbos FM Pati.


Kamis, 12 Oktober 2017

Literasi Jurus Handal Penangkal Hoax

Kamis, Oktober 12, 2017 0 Comments
Hoax seperti virus berbahaya yang menyerang semua kalangan masyarakat. Seperti halnya virus influenza, hoax menyebar dengan cepat. Jika flu menyebar melalui udara, hoax menyebar dengan cepat lewat media sosial. Lalu apakah hoax itu? Menurut Wikipedia, hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Menurut ahli filologi yaitu Robert Nares yang penulis kutip dari Tribunjateng.com menerangkan bahwa kata hoax muncul pada akhir abad ke-18. Kata hoax berasal dari “hocus” yang memiliki arti jelas yaitu “untuk menipu”. Istilah "hocus" kerap kita dengar ketika pesulap atau penyihir sedang mengucapkan mantranya. Jadi, hoax adalah berita palsu yang dibumbui sehingga orang yang membaca atau mendengar merasa bahwa itu benar. 

Tujuan Penyebaran Hoax

Hoax yang beredar dikalangan masyarakat beraneka ragam. Hoax tentang kesehatan, produk makanan, pendidikan, hingga masalah politik. Penyebaran berita palsu atau hoax bukanlah tanpa alasan. Para penyebar hoax tersebut memiliki tujuan tertentu. Tujuan mereka bermacam-macam. Mulai hanya sekedar iseng atau hiburan semata, sampai bertujuan untuk menjatuhkan orang lain. 
Penyebaran hoax dengan tujuan iseng biasanya untuk membuat orang lain merasa was-was. Misalnya adalah hoax tentang hari kiamat yang pernah heboh pada tahun 2009 silam. Berita tentang kiamat tersebut berbarengan dengan launching film berjudul “2012”. Kehebohan berita tersebut membuat ketakutan-ketakutan tersendiri dikalangan masyarakat hingga dikaitkan dengan berbagai hal seperti ramalan-ramalan tentang akhir dunia ini. Namun, beredarnya hoax tersebut perlu disyukuri oleh pihak pembuat film “2012”. Pasalnya, dengan menyebarnya isu kiamat tersebut, filmnya laris manis dikerubuti para penonton.
Tujuan lain dari penyebaran hoax adalah untuk menjatuhkan orang lain. Beberapa waktu silam, polisi telah menangkap pembuat dan penyebar berita hoax yaitu kelompok Saracen. Kelompok Saracen menyebarkan hoax atas pesanan dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan. Menurut detik.com, kelompok Saracen memiliki lebih dari 2000 akun  media sosial untuk menyebarkan konten kebencian berbau hoax. Pemesan hoax kepada kelompok Saracen lebih pada penyebaran kebencian untuk menjatuhkan lawan politik. Di luar sana masih banyak Saracen-saracen lain dengan tujuan yang sama yaitu menyebarkan hoax demi meraup keuntungan yang berlimpah . 
Jika kita amati, penyebaran berita hoax tak melulu dibidang politik. Namun sudah menyasar ke berbagai bidang kehidupan. Bahkan, berdasarkan survei yang dilakukan Sekertaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Wina Armada Sukardi yang penulis kutip dari Harnas tanggal 1 Mei 2017, sebanyak 27 persen dari sekitar seribu hoax yang dijadikan sampel adalah berita dalam bidang kesehatan. Menurut beliau, penyebaran hoax tentang kesehatan tersebut lebih dikarenakan ketidaksengajaan. Ketakutan akan informasi kesehatan tersebut disebarkan agar bermanfaat dan harus segera disebarluaskan tanpa berfikir akan kebenaran berita. Sebagai contoh adalah hoax yang viral di media sosial baru-baru ini yaitu permen narkoba. Hoax permen narkoba tersebut sempat menggegerkan dan membuat was-was para orang tua hingga penyebaran berita tersebut amatlah cepat. Apa lagi hoax tersebut bertepatan dengan kehebohan pil PCC. 

Media Penyebar Hoax

Penyebaran hoax dulu dengan sekarang jauh berbeda. Dulu, penyebaran hanya lewat mulut ke mulut. Sebagai contoh adalah hoax tentang kedatangan Nyi Roro Kidul yang meminta tumbal. Berita tersebut santer ketika penulis berumur sekitar 10 tahun. Berita tentang Nyi Roro Kidul membuat takut banyak anak. Hingga, anak-anak membuat semacam penangkal seperti bawang putih dan bambu gading. Penangkal tersebut kemudian dibawa kemana-mana agar tidak menjadi korban tumbal dari Nyi Roro Kidul. Berita palsu tersebut contoh dari hoax di masa lalu. Penyebarannya adalah dari mulut ke mulut.
Namun, sekarang ini penyebaran hoax lebih menggila. Hanya dengan bermodal like and share, hoax sudah merasuki banyak orang. Hoax sudah menyebar tanpa terkontrol. Perlu diketahui bahwa kita sekarang ini adalah makhluk yang amat tergantung dengan teknologi. Teknologi sudah semakin berkembang. Hanya dengan hitungan detik, informasi sudah menyebar ke seluruh dunia. Media sosial seperti facebook, instagram, whatsapp, dan youtube sudah menjadi kebutuhan yang tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari kita. Semua kalangan dari anak kecil hingga dewasa tak lepas dari media sosial yang bisa diakses kapanpun dan dimanapun. Hanya dengan bermodal kuota internet dan android, kita bisa berselancar secara bebas di dunia maya. Dengan mudahnya akses ke dunia maya tersebut, perlu diwaspadai berbagai dampak hoax bagi kehidupan kita terutama kelangsungan hidup bermasyarakat dan masa depan generasi muda.

Dampak Hoax

Penyebaran hoax melalui media sosial memang tak bisa terkontrol. Dampak positif dan negatif dari penyebaran hoax juga mengiringinya. Namun, dibandingkan dampak positif, dampak negatif mungkin lebih banyak mempengaruhi kehidupan kita. 
Dampak positif dari berita palsu atau hoax adalah kita bisa memproteksi diri dari hal-hal yang membahayakan. Sebagai contoh hoax tentang permen narkoba. Karena beredarnya hoax tersebut, orang tua dan anak-anak jauh lebih selektif dalam mengonsumsi makanan dan jajanan. Meski sedikit was-was akibat viralnya berita tersebut, justru ada dampak positifnya. Para orang tua menjadi rajin membawakan si buah hati bekal makanan ke sekolah agar tidak jajan sembarangan.
Selain dampak positif yang ditimbulkan, banyak sekali dampak negatif akibat penyebaran hoax. Salah satunya adalah perpecahan bangsa karena menyebarnya hoax saat momen pemilu. Selain itu, hoax tentang produk makanan tertentu mengakibatkan produsen merugi. Para produsen makanan merugi dengan beredarnya berita bahwa produk yang mereka hasilkan mengandung zat tertentu hingga mengakibatkan penyakit yang mematikan. Padahal, secara logika, suatu produk makanan tidak akan lolos balai POM jikalau tidak sehat dan membahayakan. Sebagai contoh adalah hoax yang dialami oleh produk minuman serbuk. Hoax yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa mengkonsumsi minuman serbuk dapat mengakibatkan pengerasan otak. Jika ditelisik, belum ada kajian khusus yang menyebutkan bahwa produk tersebut berdampak pada pengerasan otak. Semua jenis makanan atau minuman tidak baik jikalau dikonsumsi secara berlebihan. Jadi, bijaklah dalam mengonsumsi suatu makanan dan minuman. Lalu, bagaimana cara mengenali hoax?



Ciri-ciri Hoax

Menurut Damar Julianto  aktivis (SAFEnet) dalam blog Salamov Rijadivic menjelaskan beberapa poin tentang ciri-ciri informasi yang berpotensi hoax. Berita berpotensi hoax adalah yang tidak mencantumkan sumber berita secara valid atau tidak bisa diverifikasi. Kemudian menggunakan kata-kata dengan nada tendensius seperti “Sebarkan”, “viralkan”, “Lawan”, dan masih banyak lagi. Dan yang terakhir, berita hoax kerap menampilkan narasumber anonim.
Berita hoax juga kerap menggunakan judul yang provokatif. Judul yang provokatif bisa mengundang seseorang untuk menyebarkan berita tanpa membaca isinya. Netizen merasa tertarik atau bahkan ketakutan ketika membaca judul provokatif tersebut. Judul yang provokatif itulah yang mau tak mau membuat netizen melakukan like and share. Untuk meyakinkan kebenaran berita hoax, biasanya dilengkapi dengan foto-foto pendukung yang diedit atau sudah kadaluarsa. Kenapa berita-berita hoax cepat menyebar bak virus? Adakah solusi untuk mencegah penyebaran hoax? 

Literasi

Berita hoax cepat menyebar seperti virus penyakit dikarenakan ketakutan dari para pembaca. Namun, biasanya para penyebar hoax tidak membaca seluruh isi berita. Mereka hanya membaca judul berita yang bersifat provokatif. 
Hoax semakin berkembang karena rendahnya tingkat literasi dikalangan masyarakat Indonesia. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Kepala Editor Trans Media Titin Rosmari yang penulis kutip dari tirto.id tanggal 1 Mei 2017. Beliau mengatakan bahwa rendahnya budaya literasi Indonesia menyebabkan masyarakat mempercayai hoax.
Data lembaga penelitian Nielsen dalam tirto.id tanggal 1 Mei 2017 menyebutkan bahwa penduduk Indonesia setiap harinya menghabiskan waktu berselancar di dunia maya menggunakan komputer selama kurang lebih empat jam, browsing selama kurang lebih empat jam, dan menghabiskan waktu di sosmed selama kurang lebih tiga jam.
Berdasarkan data tersebut, kurang lebih setengah hari di gunakan oleh masyarakat Indonesia berinteraksi di dunia maya. Jadi, kemungkinan tiap hari mereka menjadi salah satu korban dan penyebar hoax. 
Literasi diperlukan untuk menghentikan penyebaran hoax. Jika masyarakat Indonesia mau membaca isi dari berita yang beredar dan mau menyaring serta menganalisis kevalidan berita yang dibaca, maka hoax tak akan menyebar. Teknologi yang ada sekarang ini mampu menganalisis kebenaran suatu berita. Melalui situs Hoax Analyzer, kita bisa mengecek kebenaran sebuah berita. Sedangkan untuk mengecek kevalidan suatu gambar bisa dicek melalui google. Menjadi pembaca yang cerdas adalah penangkal paling jitu terjangkit virus hoax.
Budaya literasi di Indonesia memang baru digaungkan kurang lebih 2 tahun terakhir ini. Pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan meminta sekolah-sekolah mengembangkan budaya literasi lewat program GLS (Gerakan Literasi Sekolah).
Budaya literasi dikembangkan agar minat baca generasi muda tumbuh. Trik-trik jitu digunakan untuk mengembangkan budaya literasi di sekolah. Mulai dari 15 menit membaca buku non pelajaran, pojok baca, dan memberikan tindak lanjut dari program tersebut seperti menulis sinopsis dan bercerita. Dengan berkembangnya budaya literasi, generasi muda akan terhindar dari berita palsu. 
Mereka adalah generasi digital, yaitu generasi yang tumbuh dan berkembang di era teknologi, tetapi dengan kebiasaan berliterasi akan menjadikan mereka para pembaca yang cerdas. Meski tak bisa terlepas dari gagdet, generasi muda tidak akan mudah percaya dengan beredarnya berita yang berbau provokatif dan tendensius. Mereka menjadi para generasi digital yang mau membaca dan menganalisis kebenaran suatu berita.
Penulis adalah guru di salah satu SMP di Kabupaten Pati. Penulis adalah guru bahasa Jawa di SMP N 1 Cluwak. Di SMP N 1 Cluwak, budaya literasi diterapkan melalui pembiasan membaca buku non mata pelajaran. Jam literasi diterapkan 15 menit di awal pelajaran. Namun, karena perbedaan penerapan kurikulum, SMP N 1 Cluwak menerapkan satu jam pelajaran literasi bagi kelas delapan dan sembilan.
Jam literasi digunakan oleh siswa untuk membaca buku di Perpustakaan. Output yang dihasilkan dari kegiatan literasi adalah siswa mulai terbiasa memegang, membaca, dan merangkum buku. Dengan adanya penerapan jam pelajaran literasi, diharapkan budaya membaca siswa akan tumbuh. Mereka menjadi sosok generasi yang tidak malas membaca. 
Jadi mulai sekarang, jadilah pembaca yang cerdas. Meluangkan waktu untuk membaca dan mengecek kebenaran berita yang kita terima. Jangan hanya menelan mentah-mentah berita yang beredar tanpa narasumber yang jelas. Jangan sampai kita ikut menjadi penyebar hoax yang meresahkan masyarakat.

Mu'linnatus Sa'dah, S. Pd
Cluwak, 12 Oktober 2017


Artikel ini diikutkan dalam lomba anti hoax yang diselenggarakan oleh Marimas dan PGRI Jawa Tengah. #antihoax #marimas #pgrijateng


Senin, 09 Oktober 2017

Geguritan Sandi Asma "Aja Slenca"

Senin, Oktober 09, 2017 0 Comments
Aja Slenca

Dening: Mu'linnatus Sa'dah, S. Pd


Migunani tumpraping bangsa dadi kang utama
Umpama ora bisa,
Lungguha ing donya kang tumata
Ilangna urip kang muspra





Nalika slenca,
Aja ditutugna
Tibaning pati ora ana kang pirsa
Usahaa kanthi tumekaning pralaya
Supaya urip dadi mulya


Cluwak, 4 Oktober 2017

Selasa, 22 Agustus 2017

Lomba Video Pendek "Cerdas Berkarakter"

Selasa, Agustus 22, 2017 0 Comments
Pendidikan karakter amatlah penting bagi kehidupan generasi muda kita. Untuk itu, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI lewat @hellomotion mengadakan lomba membuat video pendek dengan durasi hanya 1 menit.
Lomba ini terbuka bagi semua kalangan. Deadline lomba adalah tanggal 12 September 2017 dengan memperebutkan hadiah total sebesar 42 Juta rupiah. 



Pendaftaran lomba dilakukan dengan dua cara yaitu online dan offline. Pendaftaran online melalui website @hellomotion dengan mengikuti langkah-langkah yang sudah dijelaskan secara gamblang di link berikut ini http://www.hellomotion.com/cerdasberkarakter/ikutan.

Pendaftaran secara offline bisa melalui pos atau lewat google drive. Jangan lupa upload video pendek ke youtube dan share ke media sosial dengan @hellomotion dan tagar #CerdasBerkarakter.

Saya sudah mengirimkan dua karya ke lomba ini. Berikut link video pendeknya.  

1. Video Pertama


Video ini menceritakan tentang mengajari kemandirian anak melalui hobi yaitu bersepeda. 


2. Video Kedua


Video ini merupakan animasi yang menceritakan pendidikan karakter di era generasi digital.



Sabtu, 12 Agustus 2017

Artikel Ketiga dengan Judul "Pendidikan Karakter dan Generasi Digital" Dimuat Di Koran Wawasan

Sabtu, Agustus 12, 2017 0 Comments
Assalamu'alaikum...
Lama sekali tak nulis di blog ini karena kesibukan sebagai ibu rumah tangga dan guru. Namun, keiinginan untuk kembali menulis masih menggebu-gebu (nyengir red). Tepatnya seminggu yang lalu yaitu tanggal 4 Agustus 2017, artikel yang kubuat hanya butuh waktu semalam dimuat oleh koran Wawasan Semarang.

Artikel dengan judul "Pendidikan Karakter dan Generasi Digital" ini kubuat karena terinspirasi melihat murid-muridku yang tanpa lelah berbalas komentar di facebook. Kebetulan juga, saat ini dapat tugas dari Kepala Sekolah membuat aplikasi penilaian sikap. Penilaian sikap dalam kurikulum 2013 erat sekali dengan ruh Pendidikan Karakter. Oleh karena itu, artikel ini saya tulis dengan menggabungkan antara pendidikan karakter dan generasi kita yang tidak lepas dari perkembangan teknologi informasi.

Berikut screen shot artikel saya yang dimuat hari Jumat, 4 Agustus 2017.