Selasa, 28 Agustus 2018

Mie Gimo, Mie Jawa Legendaris dari Kabupaten Pati

Selasa, Agustus 28, 2018 0 Comments
Assalamu'alaikum.... Semangat pagi.. Auranya pada hepi ya, karena kita di ajang Asian Games sudah melampaui target perolehan emas. Selamat buat bangsa Indonesia terutama pahlawan olahraga kita. Tetap semangat ya... Gitu dong kita harus tetap bersatu. Kita kan Indonesia.



Kita tinggalkan dulu kegembiraan memperoleh emas di ajang Asian Games. Kali ini mau cerita tentang kuliner enak di Kabupaten Pati yang merupakan kota kelahiran tercinta. Di Kabupaten Pati terdapat salah satu desa santri yaitu Kajen. Kajen merupakan desa yang sebagian penduduknya merupakan santri dari berbagai daerah. Kajen memiliki pondok yang banyak. Di Kajen terdapat makam KH. Ahmad Mutamakim yang tiap harinya selalu ramai didatangi peziarah dari berbagai daerah. 

Salah satu yang menarik dari desa Kajen adalah kuliner mie jawa. Penjual mie jawa di Kajen ada 3 tempat salah satunya adalah Mie Gimo. Warung Mie Gimo ini terletak di jalan raya Sekarjalak Kajen. Warung ini tak pernah sepi pengunjung. Mie Gimo ini merupakan kuliner berbahan dasar mie yang dimasak di atas tungku arang. 




Mie Jawa racikan Pak Gimo ini memiliki cita rasa yang gurih manis. Dengan taburan ayam suir dan sayur kol dan tomat segar menambah nikmat mie Gimo ini. Dengan ditemani tahu goreng, sajian mie Gimo makin menambah selera makan.



Mie Gimo ini tergolong kuliner yang murah meriah. Dengan harga Rp 10.000,-an kita sudah menikmati lezatnya mie Jawa ini beserta minumannya. Murah bukan? Luangkan waktu sebentar untuk mampir ke mie Gimo ini jikalau berziarah ke makam KH. Ahmad Mutamakim atau kebetulan berada di Pati. 


Kamis, 23 Agustus 2018

Merdeka di Era Digital Itu ....

Kamis, Agustus 23, 2018 0 Comments
Merdekaaaaa.....

Selamat ulang tahun negaraku tercinta Indonesia. Semoga diumur yang ke-73 tahun negara kita akan lebih merdeka lagi. Merdeka dalam segala bidang kehidupan. Meski diperayaan ulang tahun ke-73 ini kita dirundung duka yaitu bencana gempa bumi yang menimpa saudara kita di Lombok. Namun, semangat menyambut HUT RI tetap membara kan? Mari turut mendoakan saudara kita agar tabah menghadapi ujian dari sang pencipta. Semoga musibah yang dialami ini dapat segera berakhir. AMIN.



Kita tinggalkan sejenak kesedihan, mari tetap tersenyum menyambut hari kemerdekaan Indonesia yang ke-73 tahun. Apalagi kini kita kedatangan tamu dari penjuru benua Asia melalui pesta olahraga Asian Games. 

Berbicara tentang kemerdekaan, sedari kecil memang selalu kunanti. Dari mulai kemeriahan upacara bendera, karnaval, hingga perlombaan memperingati kemerdekaan. Tahun ini kesemuanya Alhamdulillah menikmati. Upacara bendera wajiblah ya hukumnya bagi pegawai negeri seperti aku, jadi otomatis tiap tahun tak pernah absen ikut upacara bendera. Tak pernah juga tertinggal menikmati kekompakan dari pasukan paskibraka di tempatku mengikuti upacara. Karnaval tahun ini pun menikmati meskipun tak melihat langsung, namun turut andil dalam membantu menghias truk yang digunakan untuk pawai. Kekompakan dan semangat nasionalisme itulah yang selalu membuatku kangen. Tiap menginjak tanggal 17 Agustus semarak kemerdekaan sudah amat terasa. Dari berkibarnya bendera merah putih di tiap rumah hingga suasana malam tirakatan menjelang 17 Agustus.



Tak lupa juga kemeriahan perlombaan dari makan kerupuk, kelereng, balap karung, panjat pinang tak pernah membuat bosan. Tiap tahun pasti perlombaan rakyat tersebut tak pernah absen diadakan. Bahkan, kekreatifan panitia yang notabene adalah pemuda zaman now telah menginovasi berbagai perlombaan rakyat tersebut menjadi lebih menghibur.

Lalu apa sih makna kemerdekaan di era digital itu?

Merdeka adalah bebas. Kita terbebas dari kekangan penjajahan Belanda berpuluh-puluh tahun lamanya. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa apakah kita benar-benar sudah merdeka? Mungkin betul bahwa kita sudah merdeka dari penjajah, akan tetapi kita belum merdeka secara seutuhnya.

Kita masih dijajah oleh bangsa lain. Mulai dari hal terkecil yang kita pakai hingga hal besar kita masih bergantung pada bangsa lain. Aku pun menyadari itu. Smartphone yang kupegang tiap hari ini bukanlah karya anak bangsa. Televisi yang memberi anak-anakku suguhan kartun pun merk buatan bangsa lain. Motor yang kutumpangi tiap hari juga bukan buatan anak negeri. Mobil di rumah juga hasil karya bangsa lain. Jadi, kita ini sebenarnya belum merdeka.

Sumber daya alam dan manusia Indonesia sebenarnya tak kalah dengan bangsa lain. Semoga kedepannya kita benar-benar seutuhnya bisa merdeka. Minimal apa yang kita pakai tiap hari adalah hasil jerih payah karya anak bangsa. 

Jadi, pendapatku merdeka di era digital itu .....

1. Merdeka Berpendapat

Negara kita merupakan negara demokrasi. Jadi, memiliki kebebasan untuk berpendapat.  Kemerdekaan berpendapat di era digital ini makin mudah. Kita sebagai masyarakat bisa meluapkan isi pikiran melalui media sosial.  Dengan share status di media sosial kita bisa bebas beropini, mengkritisi,  dan memberi saran. 



Namun, sebagai generasi yang cerdas, kita juga harus tetap mengedepankan etika dalam penyampaian pendapat.  Dari segi penggunaan bahasa dan isi muatan pendapat kita tidak menjurus ke unsur SARA yang sangat sensitif. 

2. Merdeka Berinovasi 

Inovasi merupakan hal wajib bagi kita. Tanpa adanya inovasi, niscaya di era digital ini kita akan makin tertinggal jauh.  Inovasi dapat dilakukan dalam segala bidang kehidupan.  

Sebagai contoh adalah dalam dunia pendidikan. Saya yang merupakan seorang guru harus mampu berinovasi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan komunikasi agar tak ketinggalan zaman.  Murid zaman now merupakan generasi digital yang menggunakan separuh waktunya untuk berinteraksi di dunia Maya. Jadi, tanpa adanya inovasi dalam pembelajaran, niscaya aku akan kalah jauh dari muridku.  Lalu inovasi apa saja yang sudah kukerjakan?



Salah satu inovasi yang kukerjakan adalah membuat media pembelajaran yang interaktif. Menggunakan sarana blog untuk memberikan sumber belajar bagi murid selain buku, dan masih banyak lagi. Ayo kawan, apapun bidangmu tetaplah berinovasi. 

3. Merdeka dari barang impor

Mungkin inilah hal yang tersulit. Di era digital ini, masuknya barang impor pun makin mudah. Melalui belanja online pun kita dapat membeli barang buatan luar negeri. Namun, meski seperti itu kita tetap harus mencoba untuk terbebas dari barang-barang impor.  Memulai dengan mencintai produk anak negeri. Dengan membeli produk karya anak negeri, kita juga akan membantu perekonomian Indonesia. 

Contoh barang impor yang belum bisa kita tinggalkan adalah smartphone, motor, dan mobil. Motor yang merupakan moda transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia selama ini adalah produk buatan negeri sakura yaitu Jepang. Di jalan Raya seluruh Indonesia, motor-motor yang berlalu lalang merupakan hasil karya dari negera Jepang. Mungkin kita bisa merakit dan mendesain karena Indonesia memiliki SDM yang tak kalah dengan negara lain. Akan tetapi kita belum mampu memproduksi sendiri karena kendala pembiayaan.



Berbicara tentang motor aku jadi teringat dengan moladin. Moladin merupakan website penjualan motor yang menurutku terlengkap di Indonesia. Moladin melayani pembelian motor secara online dengan mudah, cepat, dan nggak perlu ribet.

Moladin menawarkan pembelian secara online hanya dengan cukup klik dan klik. Kita cukup membuka aplikasi atau website moladin, lalu pilih motor yang kita sukai, kemudian tunggu CS menghubungi, dan selesaikan pembayaran. Mudahkan?

Moladin juga menawarkan pembayaran dengan sistem cicilan atau kredit lho. Bagi yang memiliki tabungan yang pas-pasan, moladin membantu dengan penawaran kredit dengan cara yang mudah dan tidak ribet.



Moladin ini menjadi salah satu platform online yang menawarkan kita kemerdekaan berbelanja. Moga di masa yang akan datang nanti, moladin tak hanya membantu biker mendapatkan motor impiannya, namun juga menjadi salah satu partner bagi kemajuan industri otomotif Indonesia.

Merdeka merupakan suatu hal yang mutlak di era digital ini. Tak ada lagi kata pengekangan. Marilah, di umur yang ke-73 tahun ini, kita bersatu. Menjunjung keberagaman. Pilihan boleh berbeda, tapi kita tetap satu Indonesia. Cerdaslah memanfaatkan kemerdekaan di era digital dengan menjadi warga yang menjunjung tinggi persatuan. MERDEKAAAAA... 






Senin, 06 Agustus 2018

ABANG (2)

Senin, Agustus 06, 2018 2 Comments
Seluruh kelas menyoraki kami berdua. Bia kali ini tidak menggubris bu Tian dan sorakan dari teman-teman. Bia masih terpesona dengan cowok ganteng di kantin tadi. Kebengongan Bia tersebut sontak membuatku heran. Bia sosok yang renyah kaya krupuk tiba-tiba menjadi seperti orang kena sawan. Diajak ngomong ngalor-ngidul nggak nyambung sama sekali. Ditanya A jawabnya Z. Benar-benar seperti bukan Bia.



"Kamu kenapa sich Bi?" tanyaku heran
"Ya Allah Ebi... Dia ganteng banget."
"Siapa?"
"Cowok yang di kantin tadi."
"Ooooo..."
"Kok cuma Oooo?"
"Eeeeee..."
"Ebiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii." teriak Bia gemas mengejar aku. Ketika aku lari dari kejaran Bia tersebut, tiba-tiba tak sengaja aku menabrak dia. Yup Dia... Dia adalah lelaki yang kukagumi. Seorang cowok yang terbingkai rapi dalam hatiku.

"Upsss... Sorry." kataku. Dia tak menjawab perkataan maafku. Dia hanya tersenyum dan berlalu. Seperti itulah dia. Dia tak pernah berubah sejak dari dulu. Sejak pertama kali kami bertemu ketika bangku SMP. Dia berlalu meninggalkanku menghampiri seseorang. Dia menghampiri si cowok ganteng yang kutemui di kantin tadi pagi.

Mereka berdua berlalu meninggalkan sekolah. Aku jadi penasaran. Siapa cowok tersebut? Kenapa cowok tersebut rela menunggunya hingga berjam-jam lamanya? Banyak pertanyaan menghampiriku.
"Kena kau!" teriak Bia
"Hemmmmmmmmm."
"Kok cuma hemmmm."
"Eh, tuch cowok ganteng idola kamu jalan bareng sama....."
"Sama siapa?" 
"RAHASIAAAAA."

Candaan kami lanjutkan sembari melanjutkan perjalanan pulang. Kami pisah di halte bus. Aku ke arah utara, Bia ke arah Timur. Ketika duduk dalam bus, tanpa kusadari dia tiba-tiba duduk disampingku.

"Hai." sapanya
"Hai." jawabku kaget
"Kaget ya, kok tiba-tiba aku naik dari halte daerah ini."
"Ah... Nggak juga."
"Aku tadi pergi dengan kakakku."
"Kakak?" tanyaku heran karena sepengetahuanku dia nggak memiliki kakak.
"Dia kakak kandungku. Namanya Fajar. Lama kami tak bertemu. Dia kuliah di Semarang."
"Kenapa kamu cerita ke aku?"
"Karena kamu orang yang penting buat aku."

Kata terakhir tersebut membuatku gemetar. Tak sempat melanjutkan pertanyaan, dia sudah turun dari bus meninggalkanku yang masih heran. 

"Aku penting baginya? Sejak kapan?" 

Sejak pertemuan kami sepulang sekolah tadi, aku makin baper. Perkataannya sukses membuatku malam ini tak bisa tidur. Rasanya hati ini menginginkan agar rembulan mengambek dan minta tolong matahari untuk cepetan mengganti tugasnya. Malam ini seperti lamaaa sekali. Aku benar-benar tak bisa memejamkan mata dengan tenang. 

**

Hari ini, dua hari sejak kejadian di bus, aku masih setia menunggunya di depan kelas saat jam istirahat. Namun, dia tak kunjung lewat.
"Apa dia nggak masuk sekolah lagi ya?" gumamku.
Aku mencoba memberanikan diri menuju kelasnya. Di sana ada beberapa teman perempuan yang sedang asyik ngerumpi.
"Sorry ganggu. Boleh nanya?" tanyaku. Mereka pun mengangguk.
"Mmmmm, Reno ada?"
"Oooo... Reno dua hari ijin. Dia nggak masuk sekolah."
"Ijin? Hmmmm, OK makasih ea."
Aku kemudian berlalu. Dalam hati terus bergumam. Semakin penasaran lah hati ini. Kata teman-temannya, dia ijin karena pergi. Lalu pergi kemana?

Ketika pulang sekolah aku melihat cowok ganteng dua hari yang lalu. Menurut pengakuan Reno, dia adalah kakaknya. Laki-laki tersebut baru menemui Pak Ahmad wali kelas Reno. Aku jadi makin penasaran. Ada apa dengan Reno? Kuberanikan diri untuk menghampiri laki-laki itu. Namun, tak kusangka lelaki itu justru menghampiriku. Aku jadi salah tingkah.

"Kamu Abang?" tanyanya
"Eh... iya."

Kemudian lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Kupandangi sesaat wajah lelaki itu. Iya, dia memang mirip dengan Reno. Terutama hidungnya. Mereka berdua sama-sama mancung.

"Ini ada surat  dari Reno. Tolong dibuka nanti saja ya, tepat di hari ulang tahunmu."
"Kok gitu?" tanyaku heran
"Pesan Reno seperti itu."
"Lalu, dimana Reno?"
"Kami mengajaknya ke Bandung. Jadi mulai hari ini dia sudah resmi pindah sekolah."
"APAAAAA?"

Kakak Reno justru meninggalkanku dalam kondisi shock. Aku berdiri mematung. Kakiku kaku. Hatiku patah berkeping-keping. Ingin menangis, tapi air mata ini seperti tak mau keluar. Aku benar-benar kaget.


Bersambung lagi yaaaa...... Nantikan kelanjutannya...