Kamis, 05 Desember 2019

Menikmati Sore Hari di Alun-alun Pati

Kamis, Desember 05, 2019 0 Comments
Setelah mengalami renovasi kurang lebih 7 bulan, akhirnya pada tanggal 30 November 2019 alun-alun Kota kelahiran tercinta yaitu Pati diresmikan. Alun-alun kota Pati ini disulap oleh Bapak Haryanto selaku Bupati Pati menjadi ruang terbuka hijau yang cantik dan bersih.


Apa yang berbeda di Alun-alun Pati

1. Steril dari Pedagang Kaki Lima

Alun-alun Pati dulu kita kenal sebagai pusat kuliner. Banyak sekali pedagang kaki lima menjajakan aneka makanan ringan hingga berat menjelang sore hingga malam. Namun, semenjak direvitalisasi, pedagang kaki lima sudah steril dari alun-alun Pati. Mereka direlokasi ke tempat baru. Jadi, sekarang kita tak akan menjumpai pedagang kaki lima di alun-alun Pati.


2. Banyak Tempat Selfie


Alun-alun Pati yang sekarang jauh lebih indah dan tertata. Banyak tempat yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk berfoto-foto. Dan, salah satu yang membuat saya pribadi tertarik adalah monumen yang disitu ada patung "Rambut Pinutung" dan "Kuluk Kanigara" dua gaman dari Adipati Jaya Kusuma yang menjadi simbol Kabupaten Pati. Dan di bawahnya terdapat peta alun-alun Pati.


Selain itu, terdapat beberapa lampu-lampu dan bangunan-bangunan yang menambah indah suasana alun-alun Pati di sore hari. 




3. Bunga-bunga dan tanaman hijau

Alun-alun Pati memang digadang menjadi ruang terbuka hijau untuk warga Pati. Jadi, untuk mempercantik dan menambah daya tarik, alun-alun Pati ditanami aneka bunga berwarna-warni.




Itulah beberapa perbedaan alun-alun Pati yang dulu dan sekarang. Kita sebagai masyarakat, khususnya masyarakat Kabupaten Pati harus ikut menjaga ruang terbuka hijau yang menjadi icon kota Pati ini. Jangan sampai tangan-tangan jahil kita merugikan diri sendiri. Jangan sampai keindahan alun-alun Pati rusak hanya karena tangan jahil dan kebiasaan yang jorok. Yuk, bersama menjaga. Dan jangan lupa mampir ke Alun-alun Pati untuk foto-foto ea. Saran saya, datang pas malam hari, karena suasana tambah indah ketika lampu-lampu taman hidup. 






Rabu, 20 November 2019

Memotret Jejak Peradaban Dengan Merawat Cagar Budaya Indonesia

Rabu, November 20, 2019 6 Comments
Menjadi seorang guru bahasa Jawa membuatku selalu berkutat dengan yang namanya kebudayaan. Banyak tempat yang sudah kukunjungi ketika masih mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Semarang hingga saat ini. Candi Sukuh di Karanganyar dan Makam Jaka Tingkir di Sragen adalah sedikit dari banyak tempat bersejarah yang kukunjungi dan kugali sejarahnya untuk tugas kuliah. Mungkin, dua tempat tersebut adalah salah satu dari sekian ribu Cagar Budaya  Indonesia.  

Foto : Koleksi Pribadi

Apa itu Cagar Budaya?


Menurut UU no. 11 tahun 2010, cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan. 

Apakah di Pati terdapat Cagar Budaya?


Kok di Pati? Dimana itu Pati? Pati adalah tempatku dilahirkan dan dibesarkan hingga kini. Pati adalah salah satu Kabupaten yang terletak di pesisir pantai utara Pulau Jawa. Jika dilihat dari definisi cagar budaya berdasarkan UU no 11 tahun 2010 diatas, dapat disimpulkan bahwa cagar budaya merupakan peninggalan yang menyimpan banyak sekali ilmu untuk digali. Lalu, apakah di Kabupaten Pati memiliki cagar budaya?

Pati memiliki banyak tempat yang bernilai sejarah dan ilmu pengetahuan. Pati menyimpan sejuta kekayaan sejarah. Pernahkah mendengar cerita rakyat perempuan cantik yang menjual puntung rokok? Perempuan penjual rokok tersebut adalah Rara Mendut. Dia adalah anak asuh dari Adipati Pati yang dibawa ke Mataram sebagai hadiah kekalahan perang. Bahkan, cerita Rara Mendut pernah difilmkan dengan artis Meriam Belina sebagai pemeran utamanya. 

Itu adalah satu dari kekayaan sejarah yang dimiliki tempat tinggalku. Sedangkan, kekayaan sejarah yang mendekati definisi dari cagar budaya menurut UU no 11 tahun 2011, apakah Pati memilikinya? Yup, Pati pun memilikinya. Genuk Kemiri dan Pintu Gerbang Majapahit adalah diantaranya. Kedua tempat yang kusebutkan di atas merupakan warisan budaya berupa kebendaan yang memiliki nilai sejarah dan ilmu pengetahuan.

Situs Kemiri


Situs Kemiri merupakan tempat di Kabupaten Pati yang memiliki nilai sejarah yang penting. Situs Kemiri terletak di Desa Kemiri Kecamatan Pati, Kabupaten Pati. Perasaan pertama yang menggelayuti hati ketika pertama memasuki kawasan ini adalah merinding.

Foto : Koleksi Pribadi


Merinding melihat peninggalan berdirinya Kabupaten tercinta ini. Di Kemiri inilah pusat pemerintahan pertama dari Kadipaten Pati yang dahulu bernama Kadipaten Pesantenan. Terdapat dua pohon ringin besar sebagai gapura memasuki kawasan Kemiri ini. Di dalam kawasan Kemiri ini terdapat beberapa cagar budaya diantaranya adalah Genuk Kemiri dan makam Adipati Kembang Jaya.

Foto :  http://omahkupati.files.wordpress.com


Genuk kemiri merupakan benda yang memiliki sejarah penting bagi Kabupaten Pati. Berdasarkan sejarah yang disampaikan oleh Plawang atau penjaga pintunya, Genuk Kemiri menjadi inspirasi dari Adipati Kembang Jaya menamai Kadipaten baru hasil penggabungan dari 2 Kadipaten yaitu Carangsoka dan Parang Garuda. 

Foto : Koleksi Pribadi

Ketika membuka hutan atau istilah Jawanya babat alas, Adipati Kembang Jaya bertemu dengan penjual minuman dawet. Penjual tersebut menaruh santannya ke sebuah wadah yang terbuat dari tanah liat yaitu genuk. Bermula dari itulah, Adipati Kembang Jaya menamai Kadipaten barunya menjadi Kadipaten Pesantenan. Ketika kekuasaan diwariskan kepada sang putra yaitu Raden Tambranegara, pusat pemerintahan dipindahkan ke Desa Kaborongan dan nama Kadipaten Pesantenan dirubah menjadi Kadipaten Pati hingga saat ini.

Foto : Koleksi Pribadi


Untuk memperingati perpindahan pusat pemerintahan dari Kemiri ke Kaborongan, setiap 5 tahun sekali, bertepatan dengan ulang tahun Kabupaten Pati diadakan kirab "Boyongan". Kirab ini diawali dari Genuk Kemiri ke Pendapa Kabupaten Pati untuk memperingati berpindahnya pusat pemerintahan dari Kemiri ke Kaborongan dan Pergantian nama dari "Kadipaten Pesantenan" menjadi "Kadipaten Pati".
foto : murianews.com

Pintu Gerbang / Gapura Majapahit


Cagar budaya kedua yang ada di Pati adalah peninggalan dari Kerajaan Majapahit yaitu Pintu Gerbang atau lebih dikenal dengan Gapura Majapahit. Menurut cerita sejarah, Gapura Majapahit dibawa oleh Raden Kebo Nyabrang sebagai syarat pembuktian bahwa dirinya adalah putra dari Sunan Muria.

Foto : Koleksi Pribadi

Selain Gapura yang berdiri kokoh, di tempat ini juga tersimpan sirap (atap kayu) asli. Namun, sirap gapura ini sudah tak terpasang lagi.

Foto : Koleksi Pribadi
Gapura Majapahit terletak di tengah pemukiman di desa Rendhole Kabupaten Pati. Gapura Majapahit ini hanya dilindungi pagar besi disekelilingnya. Kondisi tempat Gapura Majapahit ini terbilang biasa saja. Tak terlihat perawatan istimewa di tempat ini, berbeda dengan di Kawasan Kemiri yang terlihat lebih tertata.
Foto : Koleksi Pribadi


Merawat Cagar Budaya

Merawat cagar budaya merupakan hal terpenting agar keberlangsungannya masih bisa dinikmati oleh anak cucu kita. Perawatan dilakukan sebagai salah satu upaya perlindungan cagar budaya. Perlindungan ini diperlukan agar cagar budaya jauh dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Kita tak ingin melihat cagar budaya yang merupakan warisan kekayaan budaya bangsa rusak hanya karena kejahilan segelintir orang yang tak bertanggung jawab. Selain menjaga dari tangan-tangan jahil, pentingnya perawatan cagar budaya adalah supaya bentuk asli baik benda maupun bangunan tak lapuk dimakan waktu.

Foto : Koleksi Pribadi


Gapura Majapahit contohnya, gapura tersebut mendapatkan perawatan rutin dari Disbudparpora Kabupaten Pati. Setiap setahun sekali, perawatan dilakukan dengan memberikan sejenis cairan kimia agar kayu dari gapura tersebut tidak lapuk dan dimakan rayap. Sedangkan perawatan di Situs Kemiri dilakukan dengan membersihkan dan melakukan perawatan rutin lainnya.

Merawat cagar budaya yang rata-rata berumur puluhan dan ratusan tahun memang memerlukan biaya yang tak sedikit. Tenaga ahli yang merawat cagar budaya juga amatlah minim. Karena serba minim itulah diperlukan sebuah komitmen dari berbagai pihak seperti pemerintah dan masyarakat. Komitmen tersebut dikatakan berjalan dengan semestinya ketika kita melihat terawatnya cagar budaya.

Foto : Koleksi Pribadi


Banyak juga cagar budaya di Indonesia ini yang tak terurus karena minimnya komitmen dari pihak yang terkait. Hal tersebut diperparah dengan minimnya kepedulian masyarakat sekitar, sehingga banyak juga kita temui cagar budaya yang harus musnah. Kemusnahan cagar budaya adalah kerugian besar bangsa Indonesia. Kerugian tersebut tak bisa dibayarkan dengan nominal uang karena cagar budaya memiliki kekayaan sejarah yang penting.

Dengan melakukan perawatan cagar budaya, kita dan generasi yang akan datang masih bisa memotret peradaban dimasa lampau. Jejak peradaban yang syarat nilai moral, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan sejarah penting lainnya.

Lalu, bagaimana kita sebagai masyarakat merawat cagar budaya?

Hidup di jaman serba canggih dan digital, kita sebagai masyarakat awam bisa melakukan hal-hal kecil tapi bermakna. Apakah itu?

1. Mencintai
Hal pertama yang dapat kita lakukan untuk merawat cagar budaya adalah dengan mencintai negara tercinta. Dengan mencintai negara tercinta yaitu Indonesia dengan kekayaan alam dan budayanya, kita tak akan rela jika ada pihak yang mencoba merusak, memusnahkan, hingga mengakui kebudayaan kita. Rasa cinta tanah air membuat kita rela berkorban demi bangsa dan negara, termasuk menjaga kekayaan warisan budaya bangsa milik negara.

2. Memotret Jejak Peradaban
Cagar budaya kaya akan makna sejarah, pendidikan, ilmu pengetahuan di masa lampau. Memotret jejak peradaban negeri tercinta dengan merawat cagar budaya adalah langkah penting. Kita melakukan berbagai tindakan pelestarian cagar budaya demi terjaganya jejak peradaban masa lampau agar generasi selanjutnya masih bisa menikmatinya.

Tindakan memotret jejak peradapan yang pertama adalah dengan menggali cerita sejarah dibalik benda ataupun bangunan cagar budaya. Dengan menggali cerita dari cagar budaya tersebut, kita akan mengetahui betapa hebatnya kekayaan warisan budaya masa lampau. Informasi yang tergali tersebut akan terpotret dalam pikiran, hati, dan bahkan menumbuhkan rasa cinta yang mendalam. Hal tersebut kerap kualami ketika sedang menggali cerita sejarah yang melatarbelakangi suatu tempat. Seperti love at the first sight itulah perasaan yang kualami ketika memotret jejak peradaban dari cagar budaya. Sehingga rasa cinta tersebutlah yang akan memperkuat hati untuk tetap ikut menjaga kelestarian cagar budaya.

Membagikan cerita ke khalayak umum adalah tindakan memotret jejak peradaban yang kedua. Dewasa ini, penyebaran informasi amatlah cepat. Potret cerita sejarah yang melatarbelakangi suatu cagar budaya bisa kita tuangkan dalam bentuk tulisan, video, ataupun gambar. Kemudian hasilnya dapat dibagikan ke khalayak umum melalui media sosial. Langkah kecil tersebut akan bermakna bagi kelangsungan sejarah budaya bangsa. Tulisan, video, dan foto tersebut akan tersimpan dalam cloud memory dan menjadi salah satu sumber informasi bagi masyarakat. Dan hal inilah yang kerap kulakukan. Seperti kunjungan ke Gapura Majapahit dan Genuk Kemiri beberapa waktu lalu sudah menjadi sebuah media pembelajaran berbentuk cerita dan video bagi siswa-siswaku agar mereka semakin tertarik dengan cagar budaya yang dimiliki. 

3. Puasa Jahil
Jika berkunjung ke suatu tempat, banyak diantara kita yang tanpa sengaja melakukan tindakan yang merugikan. Sebagai contoh adalah membuang sampah sembarangan, merokok, mengambil sesuatu, dan melakukan tindakan-tindakan kecil yang tanpa kita sadari bisa menyebabkan kerugian. Puasa jahil menjadi syarat wajib yang harus diterapkan pada diri kita agar cagar budaya yang kita kunjungi tetap terawat dan terjaga. Bahkan, jangan segan untuk menegur seseorang yang melakukan tindakan merugikan yang bisa mengakibatkan musnahnya cagar budaya.

Jangan Musnahkan Kekayaan Budaya Kita

Memusnahkan barang merupakan hal yang mudah. Namun, kemudahan tersebut jangan sampai memusnahkan sejarah bangsa. Cagar budaya perlu dirawat, dijaga, dan dilestarikan. Untuk menghindari kemusnahan tersebut, hal kecil yang sudah kulakukan adalah dengan mengedukasi siswa-siswaku melalui materi pembelajaran yang kuajarkan. 

Bahkan, sekolah mengadakan One Day Pati Exotic Tour.  One Day Pati Exotic Tour merupakan paket wisata sehari berkeliling ke berbagai tempat cagar budaya di Kabupaten Pati salah satunya adalah di Situs Kemiri.

Mari kita bersama-sama merawat dan melestarikan Cagar Budaya Indonesia. Jangan musnahkan kekayaan budaya kita.

Foto : Koleksi Pribadi


Disclaimer:

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Cagar Budaya Indonesia : Rawat atau Musnah.
Yuk ikutan!!!






Bahan Bacaan:
https://beritagar.id/artikel/berita/merawat-cagar-budaya-mencatat-peradaban
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/merawat-cagar-budaya-mengelola-jejak-peradaban/
https://id.wikipedia.org/wiki/Cagar_budaya










Selasa, 12 November 2019

4 Alasan Wajib Menikmati Car Free Day Kudus, Liburan dan Kulineran Murmer

Selasa, November 12, 2019 0 Comments
Assalamu'alaikum... Kemana nich liburan panjang kemarin? Kebetulan di bulan November ada weekend panjang di awal bulan dan bertepatan dengan dua hari penting bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Kok bisa? Ditanggal 9 November 2019 yang tepatnya pada hari Sabtu kemarin, kebetulan kalender seluruh Indonesia berwarna merah. Itu berarti LIBUUUUUR. Kebetulan juga tepat berada di hari Sabtu. Bagi yang daerahnya menerapkan 5 hari kerja mungkin tak berpengaruh kali ea? Tapi, lain buatku. Hari Sabtu tanggal merah itu LUAAAAAR BIASAAA senangnya. Kenapa? Jawabannya karena bisa libur dengan keluarga.




Liburan kali ini pergi ke rumah mertua, eyange anak-anak. Rumah mertua berada di kota kretek yaitu Kudus. Kemarin, kita gak kemana-mana sich, cuma menghabiskan waktu ke tempat orang-orang Kudus kulineran di hari Minggu. Yup, kami sekeluarga menghabiskan waktu ke CFD di Simpang 7. Kenapa kami memilih Car Free Day sebagai salah satu menikmati liburan? Berikut 4 alasannya.

Banyak Pilihan Makanan

Di Car Free Day Kudus sepanjang jalan terdapat pedagang kaki lima menjajakan makanan ringan, makanan berat, dan aneka minuman. Banyak sekali pilihan makanan. Aku saja bingung milih makanan yang akan ku beli saking banyaknya pilihan. Masalah harga sangat aman dikantong.




Banyak Aneka Barang Kebutuhan Dijual

Selain makanan, Car Free Day ini juga memberi banyak manfaat bagi pedagang kaki lima yang menjual aneka barang kebetuhan. Banyak lapak pedagang kaki lima menjual pakaian anak, dewasa, jilbab, sepatu, alat elektronik, bantal, mainan anak-anak, dan masih banyak lagi. Berapa harganya? Harganya gak terlalu mahal. Harga yang ditawarkan standarlah, tidak mremo.



Olahraga Jadi Tak Terasa


Karena banyaknya pedagang di kanan-kiri jalan, akhirnya tak terasa kita sudah berolahraga kurang lebih jalan kaki sekilo meter. Pedagang berjajar dari jalan Simpang 7 ke Selatan, kurang lebih 1 kilo meter.


Menyenangkan Anak dengan Modal Tak Seberapa


Selain tiga alasan di atas, car free day Kudus juga dapat memberi hiburan buat anak. Banyak mainan dan permainan yang tersedia. Ada permainan memancing, odong-odong, kereta mini, tembak-tembakan, lukis, dan lain-lain. Cukup 10 ribu, anak dah senang. 



Nah, itu alasan kenapa wajib menikmati car free day di Kudus. Itulah liburanku, mana liburanmu... 






Selasa, 29 Oktober 2019

Nikmatnya Olahan Bandeng di Rindang 84

Selasa, Oktober 29, 2019 2 Comments
Assalamu'alaikum.... Semangat pagi... Hari ini mau rekomendasikan tempat makan di Kabupaten Pati. Siapa sich manusia di dunia ini yang gak doyan makan. Kabupaten Pati itu terkenal dengan ikan bandengnya. Terlihat jelas di monumen ikan bandeng di jalan lingkar pantura. 



Selain monumen ikan bandeng, siapa sich gak pernah dengar oleh-oleh di Semarang yang terkenal?? Yup, oleh-oleh Ikan Bandeng Juwana. Juwana adalah salah satu kecamatan penghasil ikan terbesar di Kabupaten Pati. Dan menjadi salah satu ikon oleh-oleh terbesar di Jawa Tengah. 

Kok bahasnya bandeng sich? Iya, seperti tulisanku di awal, kali ini aku mau merekomendasikan tempat makan yang 80%-nya menyajikan olahan ikan bandeng yang menjadi ciri khas dari Kabupaten Pati.  Duch, pasti dah pada bayangin nikmatnya olahan ikan bandeng kan? Ada salah satu tempat makan yang menyediakan bermacam-macam olahan ikan bandeng di Kabupaten Pati.  Tempat makan tersebut adalah "Rindang 84". RM "Rindang 84" menjadi tempat memanjakan lidah bagi penggemar kuliner ikan bandeng. 


Menu Utama RM "Rindang 84"


"Rindang 84" tak pernah sepi pengunjung. Penikmat kuliner olahan bandeng pasti tak pernah  menyesal dengan pelayanan dan cita rasa yang ditawarkan RM "Rindang 84". Apa saja menu yang ada di RM "Rindang 84"? Sayangnya beberapa waktu lalu pas ke sana lupa fotoin menu. Tapi beberapa masih ingat kok menu yang ditawarkan. Berikut menunya.
  1. Bandeng bakar
  2. Bandeng presto
  3. Bandeng krispi
  4. Otak-otak bandeng
  5. Bakso bandeng
  6. Galantin bandeng
  7. Tahu bakso bandeng
  8. Waleran (kinca) bandeng



Selain menu utama olahan bandeng, di RM "Rindang 84" juga menyediakan makanan lain. Menu makanan lain tersebut diantaranya adalah
  1. Ayam goreng
  2. Ayam bakar
  3. cah kangkung
  4. mie goreng

Fasilitas


Ngomong tentag fisik RM "Rindang 84" ini pun semangat. RM "Rindang 84" memiliki desain tempat yang nyaman. Ada pilihan lesehan dan meja makan tinggal pilih. Pelayanan ramah. Ada tempat cuci tangan dan toilet yang bersih. Bahkan, ada pojok bacanya juga lho. Tapi, kalau ini bukunya tidak bebas dibaca. Soalnya bukunya dijual. Buat pengelola RM "Rindang 84" bisa jadi saran nich, supaya buku yang tersedia di pojok baca bebas di baca anak-anak dan pengunjung lainnya.




Alamat RM "Rindang 84"


RM "Rindang 84" beralamat di Jalan Ahmad Yani No. 30, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati. Carinya mudah kok. Tinggal cek di google map, ketik RM "Rindang 84" muncul dech petunjuk arahnya. 




Makin ngiler kan ea bayangin enaknya berbagai olahan bandeng yang ada di RM "Rindang '84". Yuk, yang kebetulan lewat di Kabupaten Pati cuz dech mampir. Dan RM "Rindang 84" ini pun menyediakan oleh-oleh untuk dibawa pulang. Kita bisa bawa apa saja ea?

Oleh-oleh RM "Rindang 84"

  1. Bandeng presto frozen
  2. Bakso bandeng frozen
  3. Otak-otak bandeng frozen
  4. Bandeng krispi frozen

Sekian tulisanku. Semoga bermanfaat ea. Selamat menikmati olahan ikan bandeng di RM "Rindang 84".









Sabtu, 26 Oktober 2019

Napak Tilas "Gerbang Majapahit" Bersama MGMP Bahasa Jawa Kabupaten Pati

Sabtu, Oktober 26, 2019 3 Comments
Assalamu'alaikum... Alhamdulillah masih diberikan kesehatan yang luar biasa oleh Allah SWT, sehingga kali ini bisa berbagi cerita. Sebenarnya ini cerita awal bulan lalu, tepatnya tanggal 3 Oktober 2019. Hari itu Kamis, 3 Oktober 2019 ada kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa Kabupaten Pati. Alhamdulillah, saat itu diberikan kesehatan untuk ikut serta dalam kegiatan MGMP. 



Kegiatan MGMP hari itu lain dari biasanya. Para pangarsa MGMP menjadwalkan kegiatan jalan-jalan atau istilahnya napak tilas ke berbagai tempat bersejarah yang ada di Kabupaten Pati. Perjalanan di awali ke Desa Rendhole yaitu ke tempat Gerbang Majapahit, dilanjutkan ke Sendang Sani, dan terakhir ke Genuk Kemiri. Cerita Sendang Sani sudah pernah kutulis di artikel lain dalam blog ini.

baca ini: sendang-sani-versi-disdikpora-pati


Nah, kali ini mau cerita tentang Gerbang Majapahit. Kok bisa ea Gerbang Majapahit ada di Kabupaten Pati? Padahal, menurut sejarah, Majapahit ada di Jawa Timur? Penasaran? Tetep baca artikel ini sampai habis.


Asal Muasal Cerita


Cerita diawali ketika Sunan Muria selesai dari perkumpulan. Ketika beliau pulang, jalan yang dilewati banjir. Kemudian Sunan Muria berujar, "Sapa sing bisa nyabrangake aku, yen lanang dadi adhiku, dene yen wadon dadi bojoku."

Kebetulan ketika itu ada seorang penggembala kerbau dengan putrinya. Pengembala tersebut bernama Mbah Seba Menggala. Mendengar berkataan Sunan Muria, Hapsari sang putri Mbah Seba Menggala berniat membantu. Hapsari menunggangi kerbau untuk menolong Sunan Muria menyebrang. Sunan Muria kemudia naik ke punggung kerbau milik Hapsari. 



Akhirnya, Sunan Muria berhasil menyebrangi banjir. Untuk menepati janjinya, Sunan Muria pun menikahi Hapsari. Pernikahan berlangsung kurang lebih 1 bulan. Setelah 1 bulan, Sunan Muria kembali ke padepokan Muria dan meninggalkan Hapsari.

Sepeninggal Sunan Muria, Hapsari melahirkan seorang putra dan diberi nama Raden Bambang Kebo Nyabrang. Nama tersebut di berikan Hapsari karena berhasil menyebrangkan Sunan Muria dengan bantuan seekor kerbau. Hapsari meninggal dunia dan Raden Bambang Kebo Nyabrang diasuh kakeknya yaitu Mbah Seba Menggala.

tampak belakang


Setelah dewasa, Kebo Nyabrang bertanya, "Sabenere aku iki anake sapa Mbah?". Kakeknya sudah tidak bisa menutupi asal-usul Kebo Nyabrang dan akhirnya menceritakan bahwa dia adalah anak Hapsari dengan Sunan Muria. Mendengar cerita tersebut, Bambang Kebo Nyabrang pergi untuk bertemu Sunan Muria.

Dia pergi ke padepokan Muria. Ketika bertemu, dia menanyakan kebenaran tentang dirinya. Apakah benar, dirinya adalah putra Sunan Muria. Sunan Muria awalnya mengelak. Kebo Nyabrang kemudian mengeluarkan benda untuk memperkuat jati dirinya. Untuk meyakinkan diri, Sunan Muria memberi satu persyaratan. 

Gerbang Majapahit Sampai Ke Pati

Persyaratan yang diberikan Sunan Muria adalah membawa pintu gerbang Majapahit yaitu pintu Bajang Ratu. Bambang Kebo Nyabrang menyetujui syarat tersebut dan pergi ke Mojokerto untuk mengambil pintu tersebut. 



Di tempat lain, di padepokan Sunan Ngerang, salah satu muridnya yang bernama Raden Rangga berkeinginan menyunting sang putri yaitu Rara Pujiwat. Namun, Rara Pujiwat memberikan satu syarat agar mau dipersunting oleh Raden Rangga. Syarat yang diajukan Rara Pujiwat adalah Ki Rangga mau memboyong pintu gerbang Majapahit ke padepokan Sunan Ngerang. Raden Rangga menyanggupi dan pergi ke Mojokerto. 

Namun, sesampainya di Mojokerto, Raden Rangga kecewa. Kekecewaan tersebut lantaran pintu Bajang Ratu sudah ditidak ada ditempatnya. Pintu tersebut telah dibawa oleh seorang pemuda ke Gunung Muria. Pemuda tersebut tak lain adalah Raden Bambang Kebo Nyabrang.



Raden Rangga pun mengejar Raden Bambang Kebo Nyabrang. Raden Bambang Kebo Nyabrang berhasil disusul. Raden Rangga pun meminta pintu tersebut, tetapi Bambang KEbo Nyabrang tidak mau menyerahkannya.

Pertempuran tak terelakkan lagi. Keduanya bertengkar hebat selama 35 hari. Sunan Muria mendengar pertengkaran tersebut akhirnya turun tangan. Sunan Muria berkata, "Wis lerena, sakloron padha bandhole!" perintah beliau.



Akhirnya kedua orang tersebut berhenti bertarung. Tempat peleraian tersebut sekarang dikenal dengan nama desa Rendhole dari kata padha bandhole. Sunan Muria pun mengakui Raden Bambang Kebo Nyabrang sebagai putranya. Dan disuruh menjaga pintu gerbang Majapahit.

Raden Rangga pun pulang ke padepokan Ngerang dengan membawa pathek pintu yang melengkung ke hadapan Rara Pujiwat. Namun, Rara Pujiwat tidak mau, dia menginginkan pintunya bukan patheknya. Raden Rangga marah. Pathek pintu tersebut dilempar ke Rara Pujiwat. Rara Pujiwat terkena lemparan pathek tersebut dan tenggelam ke sungai.

Kondisi Gerbang Majapahit Saat Ini


Di atas adalah cerita singkat dari asal muasal gerbang Majapahit sampai di desa Rendhole. Kondisi gerbang Majapahit yang ada di desa Rendhole ini sudah tidak 100% asli. Ada beberapa bagian kayu yang diganti. Di tempat tersebut juga ada sirap kayu atau atap kayu asli dari pintu gerbang Majapahit menumpuk di depan pintu.




Di sana juga tumbuh subur pohon "adem-adem ati". Menurut Pak Enggar penjaga pintu gerbang Majapahit, setiap 6 tahun sekali kayu diberi cairan kimia.




Sumber: Pak Enggar (plawang gerbang majapahit)





Selasa, 22 Oktober 2019

Kehilangan Seorang Pahlawan Hidupku "IBU"

Selasa, Oktober 22, 2019 0 Comments
Assalamu'alaikum... Baca judul postingan kali ini sedih ea. Yup, sudah kurang lebih 12 hari aku kehilangan sosok pahlawan dalam hidupku yaitu ibu. Tepatnya tanggal 11 Oktober 2019 kurang lebih pukul 15:00 WIB.



Ditinggal seorang ibu seperti mimpi. Mimpi disiang bolong. Kenapa seperti mimpi? Bagiku ini mimpi yang menyedihkan. Ibu yang pagi hari masih berjualan di pasar dan siang ketika aku pulang dari mengajar pun terlihat sehat karena beliau memasak untuk kami.

Kebetulan hari itu Jumat. Di hari Jumat, bapak berjualan pun setengah hari. Aku pulang kerja pun pukul 12 siang sampai rumah. Di hari tersebut, adikku yang kedua kebetulan berkunjung bersama suami dan anaknya. Sedangkan adikku yang ketiga tidak masuk sekolah.

Siang hari sepulang dari Jumatan kejadian memilukan dan mengagetkan tersebut terjadi. Bapak yang menonton televisi tiba-tiba dikagetkan dengan suara ibu yang "pelo". Bapak menjerit dan aku bergegas menghampiri. Seketika itu aku shock. Aku berlari mencari pertolongan untuk membawa ibu ke rumah sakit. Adik iparku bergegas mencari bantuan juga dan mengeluarkan mobil.



Suasana tiba-tiba ramai oleh saudara dan tetangga. Kakiku lemas. Perasaanku tak enak. Karena ketika ibu sudah tak sadarkan diri, tiba-tiba kotoran keluar dengan sendirinya. Ibu akhirnya di bawa ke rumah sakit di daerahku. Aku masih duduk lemas. Dengan mengumpulkan kekuatan, aku menyusul dengan mengendarai motor. 

Suamiku ketika kejadian langsung di telpon oleh mbak yang membantu di rumah. Dalam perjalanan, hatiku sudah was-was. Yup, aku menangis. Di tengah jalan, aku berpapasan dengan suami. Kemudian dia membututiku dari belakang menuju rumah sakit. Sampai di IGD, aku sudah tak bisa berkata-kata. Ibu sudah dipasangi berbagai alat bantu. Deteksi jantung, tekanan darah, oksigen, entah apa lagi yang terpasang.

Perawat rumah sakit memberi kami keluarga pesan agar mendampingi ibu. Aku di sebelah kanan ibu membisiki nama ALLAH. Bapak membisiki ditelingi kiri. Suamiku dan pak dhe membaca YASIN. Aku dan keluarga menunggu keajaiban. Tekanan darah ibu tinggi. Dari 264 ke 300 hingga drop dan akhirnya beliau meninggal dunia.

KAGET... Menangis... Secepat inikah kau meninggalkanku Buk... Aku belum sempat membahagiakanmu. Bahkan, aku masih seperti anak kecil yang selalu kau siapkan makanan sepulang aku sekolah. Ibukku yang selalu berpuasa ketika aku menghadapi ujian. Ibukku yang doanya manjur untukku. Ibukku yang kusayang...



Ibuk maafkan aku jika aku menyakitimu, maafkan segala perilakuku dan cucu-cucumu. Aku ikhlas buk. Hari Jumat, 11 Oktober 2019 KAU panggil surgaku ya Allah. Berikanlah beliau tempat terindahMu, surgaMu.. Ampuni segala dosa-dosanya. Lampangkanlah kuburnya.. Semoga husnul khotimah buk..



Yang menyayangimu, 

putri sulungmu
Linna