Rabu, 29 November 2017

Teks Lomba Bercerita Tema Jasa Pahlawan

SANG SRIKANDI PEJUANG EMANSIPASI WANITA

Sang Srikandi pejuang emansipasi wanita itu adalah Raden Ajeng Kartini. Kartini dilahirkan dari kalangan bangsawan. Beliau merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat seorang Bupati Jepara. Ibu kartini adalah M.A. Ngasirah seorang guru agama. Ibu Kartini bukanlah istri utama, karena beliau bukan berasal dari kalangan bangsawan. Kisah kartini diawali ketika beliau berumur 12 tahun. Bapak Kartini menemuinya, “Trinil, ndhuk, kini sudah tiba saatnya kamu menjalani masa pingitan.” Terang RM Ario kepada Kartini. Dengan raut muka sedih, Trinil (nama panggilan Kartini kecil) menjawab halus, “Bapak, Trinil ingin sekolah. Trinil ingin menjadi gadis yang cerdas. Gadis dengan cita-cita yang tinggi. Trinil ingin sekolah pak.”
“Trinil, bapak tidak bisa memenuhi keinginanmu. Ini adalah tradisi. Perempuan tidak perlu sekolah yang tinggi. Sudah saatnya kamu dipingit. Belajar segala hal urusan wanita, kemudian menikah dengan seseorang yang tepat.”
“Pak, tidak bisakah tradisi itu tidak dilaksanakan?” bujuk Kartini sembari menangis
“Trinil, bapakmu ini adalah Bupati. Bapak adalah pemimpin Jepara. Tidak mungkin bapak menghancurkan tradisi sendiri.” 




Keputusan RM Ario Sosro sang ayah untuk memingit Kartini sudah bulat. Kartini pun sudah tidak bisa merayu lagi. Dengan hati yang berat, dia mencoba menerima keputusan sang Ayah.Di usianya 12 tersebut, Kartini harus menjalani tradisi pingitan. Kartini harus tinggal di rumah. Kartini harus berhenti sekolah dan bersembunyi dibalik tembok tinggi. Meninggalakan segala kecerian bersama temannya Rosa Abendanon, Annie Glaser, Stela, Van Kol, dan lain-lain. 
Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa tersiksanya dipingit selama berbulan-bulan. Kartini ingin berkeliling Jepara tanpa pengawalan. Namun, ia sedang dipingit. Hari-hari ia lalui dengan belajar hal-hal yang dilakukan oleh seorang wanita. Ia juga masih belajar buku-buku yang dipinjamkan oleh sahabat dan kakaknya. Kartini terus berfikir. Mengapa wanita harus tertinggal? Mengapa lelaki yang boleh bersekolah, menyampaikan pendapat, bekerja? Lalu, buat apa wanita diciptakan jika selalu ditindas dan dibedakan dari kaum lelaki? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikiran Kartini. 
Kartini ingin merubah semuanya. Dia terus mencari cara agar keadaan bisa lebih baik. Ia ingin agar kaum wanita lebih maju. Hari-hari ia lewati dengan lebih bersemangat. Ia selalu berkirim surat dengan sahabat-sahabatnya. Ada banyak hal yang ia ceritakan kepada sahabatnya, termasuk beasiswa kedokteran di Belanda. Namun, mimpi tersebut pupus ketika Ngasirah membawa berita tak mengenakkan.
“Trinil, sudah saatnya kamu berhenti dipingit.”
“Berhenti dipingit Bu?” Kartini heran
“Tentu. Pingitan adalah tradisi dimana kamu dilindungi, dan sudah saatnya kamu berhenti dipingit, karena sudah ada lelaki yang akan menikahimu.”
Adipati Ario Singgih adalah sosok lelaki yang akan menikahi kartini.  Beliau adalah Bupati Rembang. Mereka menikah pada tanggal 12 November 1903. Kartini bertanya kepada Adipati Ario Singgih.
“Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada bapak.” 
“Tentu. Apa itu Kartini?”
“Saya memiliki mimpi membangun sekolah khusus untuk kaum perempuan. Saya ingin mereka samarata dengan lelaki. Saya ingin agar wanita tidak tertindas dan lemah. Bagaimana menurutmu?”
“Sungguh mulia itu Kartini. Saya sempat berfikir seperti itu. Namun, karena banyak pertimbangan saya belum melaksanakannya. Apabila kamu ingin melakukannya, lakukanlah! Aku akan mendukungmu.”

Sesaat setelah menikah, ia segera membuka sebuah sekolah untuk perempuan. Kartini sendiri terjun sebagai guru. Mengajarkan anak-anak perempuan segala hal yang ia ketahui. Kegiatan tersebut berlangsung hingga usia kandungan Kartini 9 bulan. Di usia kandungan 9 bulan, Kartini hanya menghabiskan waktu membaca buku dan membalas surat dari teman-temannya di Belanda.
17 September 19 04, Kartini menggerakkan tangan lemahnya di atas kertas. Tiba-tiba tubuhnya melemas. Mata yang penuh semangat itu perlahan tertutup. Tubuhnya yang tak lelah berjuang untuk kaum wanita itu sekarang terdiam. Iya, tubuh kaku. Hari itu, Kartini menutup hidupnya.
Namun, semangat dan perjuangannya tak pernah berakhir. Mimpi indah yang ia rangkai perlahan terwujud. Jasa besarnya memperjuangkan untuk emansipasi wanita. Kini wanita mampu menjadi pemimpin. Mampu bersaing dengan kaum pria dalam segala bidang. Siapa pun itu, kaum wanita kaya, miskin, tinggi, rendah, lemah, kuat, cantik, jelek mampu mengepakkan sayapnya berkat semangat yang ia kobarkan. Semangat dari 

Sang Srikandi Pejuang Wanita
Oleh: Mu’linnatus Sa’dah, S. Pd

Hembusan nafas pasrahmu dalam kekangan tradisi
Peluh dan tangismu 
Terangkai rapi dalam sejarah kami
Dibalik kecantikanmu
Kau anugrahkan kaummu terangnya kehidupan
Terbangun dari gelapnya tradisi
Srikandiku
Tabir perbedaan itu kau robek
Menuang impian nyata
Demi emansipasi wanita




Teks cerita lomba bercerita di atas berasal dari naskah dari dari nauranayyah.blogspot.co.id. Dari naskah drama tersebut saya tata dan jadilah satu rangkaian cerita. Mangga yang ingin mengunduhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar